Kata-Kata Bijak

Kita tidak tahu apakah Allah akan memberi rezeki yang banyak atau sedikit kepada kita

Kita juga tidak tahu kapan kita akan sukses

Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk mendapatkannya

Tampilkan postingan dengan label Hanya wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanya wanita. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2007

10 Hal Yang Diinginkan Suami dan Istri

Apa saja, sih, yang diharapkan dan diimpikan kaum suami dan juga para istri?

Ternyata bukan hal yang sebetulnya sulit dilakukan, lo. Terlebih jika Anda berdua memang sama-sama ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang senantiasa langgeng dan bahagia.

Nah, ini dia yang diinginkan para istri dan suami.

YANG DIIMPIKAN PARA SUAMI

1. YAKIN AKAN KEMAMPUAN
Banyak kaum pria berpendapat, adalah penting baginya untuk bisa melindungi anak-istri dan mencukupi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Biarkan suami tahu dan merasa, Anda amat yakin akan kemampuannya memberikan semua itu kepada Anda. Dukung suami sepenuhnya.

2. PENGERTIAN
Salah satu cara untuk dapat saling mengerti adalah Anda berdua saling berbagi cerita, berdialog, setiap hari minimal selama 20 menit. Buatlah jadwal rutin untuk berduaan. Tunjukkan bahwa Anda mau mengerti, mendengar, dan memberinya perhatian.



3. PUJIAN
Tak ada orang yang tak senang dipuji. Jadi, pujilah belahan jiwa sesering mungkin. Tapi ingat, jangan terlalu berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan tak pernah memberi hasil yang baik.

4. TERIMA APA ADANYA
Banyak suami sebal dan marah jika sang istri mencoba untuk mengubah kebiasaannya. Ingat, hanya satu orang yang dapat Anda ubah, yaitu diri Anda sendiri!

5. LANGSUNG KE MASALAH
Jika suami lelah sepulang dari kantor atau dia sedang sibuk karena ada tugas yang harus diselesaikannya dan Anda benar-benar perlu membicarakan sesuatu dengannya, sebaiknya langsung berbicara pada masalahnya. Jangan bertele-tele. Jika dia ingin mengetahui lebih detail, pasti dia akan bertanya pada Anda.

6. KASIH SAYANG
Jangan pernah bosan dan malu menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang Anda padanya. Pegang tangan suami saat berjalan bersamanya, tinggalkan pesan dengan mesra di telepon genggamnya, pijat punggungnya dengan kasih sayang, dan berikan ciuman yang tak terduga. Laki-laki senang suasana yang romantis.

7. HORMATI
Hormati suami dengan cara tidak memberikan komentar yang negatif mengenai pendapatnya, pertimbangkan dengan baik rencananya, selalu dengarkan semua pembicaraannya dengan baik dalam arti mata terarah padanya.

8. WAKTU LUANG
Hampir semua orang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, waktu untuk memulihkan energi dan relaks. Sepulang suami dari kantor dan menginginkan waktu untuk sendirian untuk sesaat atau jika sesekali ia ingin pergi bersama teman-teman lamanya, biarkan dia melakukannya.

9. PERCAYA
Kepercayaan merupakan hal yang utama di dalam perkawinan. Jika Anda merasa ada keragu-raguan dan memiliki masalah dalam hal kepercayaan terhadap suami, mintalah nasihat dari ahlinya, jangan bertindak memata-matainya.

10. JADI SAHABAT SEJATI
Mudah-mudahan Anda dapat mengatakan, suami tercinta bukan hanya sebagai kekasih, tetapi juga seorang teman. Menjadi seorang teman sepanjang tahun, menjadikan Anda selalu mempunyai waktu bersama dan selalu mengerjakan sesuatu bersama-sama pula.

YANG DIDAMBAKAN DARI SUAMI

1. KATAKAN CINTA SETIAP HARI
Setiap orang butuh pernyataan dan merasa dirinya dicintai. Cara yang terbaik adalah dengan mengatakan, "Saya cinta kamu" atau "Saya sayang kamu". Mudah saja, kan? Ucapkan setiap hari. Lakukan dengan gaya santai, tak dibuat-buat, karena akan terasa lebih mengena di hati istri.

2. MENGERTI & MEMAAFKAN
Pasti ada hari-hari di mana istri membuat kesalahan atau sedang dalam keadaan yang menjengkelkan Anda. Ingat, tidak ada seorang pun yang sempurna. Karena itu, mengertilah dia apa adanya dan maafkan kesalahannya. Tidak ada satu pun hubungan yang langgeng tanpa adanya saling memaafkan.

3. DIALOG
Jangan biarkan percakapan dengan istri tidak bermakna. Bicarakan masalah anak, pekerjaan, dan semua aspek kehidupan Anda berdua. Jika terjadi percakapan di antara Anda tapi tidak bermakna bagi Anda, berarti ada sesuatu yang tak beres dalam perkawinan Anda.

4. SELALU LUANGKAN WAKTU UNTUK ANAK & ISTRI
Membuat waktu khusus untuk istri dan anak bukanlah merupakan sesuatu yang harus direncana tetapi harus merupakan hal rutin yang Anda lakukan setiap hari. Berada bersama dengan orang-orang yang Anda cintai merupakan prioritas utama.

5. LEBIH BANYAK BILANG "YA"
Sering melontarkan jawaban negatif kepada istri dan anak dapat mengakibatkan mereka jauh dari Anda. Pikirkan baik-baik sebelum berkata "Tidak". Dengan lebih banyak mengatakan "Ya", hubungan Anda dengan anak dan istri akan lebih dekat serta hangat.

6. JADI PENDENGAR YANG BAIK
Benar-benar suatu yang menyebalkan bagi seorang istri ketika dia tengah berbagi perasaan dengan suaminya tapi lalu tersadar, ternyata suaminya tidak mendengarkannya. Seorang istri ingin dan membutuhkan bukan hanya didengar oleh kuping, tapi didengar oleh hati Anda.

7. CINTA & BELAIAN
Berapa sering Anda mengucapkan "Tolong", "Terima kasih", atau memberi ciuman yang tak terduga? Jangan lupa, memperlihatkan rasa cinta, kasih sayang, dan belaian adalah kunci untuk meraih sukses di dalam perkawinan.

8. SALING BERBAGI TUGAS & TANGGUNG JAWAB
Salah satu alasan yang menyebabkan pasangan bertengkar atau konflik di dalam rumah tangga adalah tugas serta kewajibannya di rumah. Pekerjaan mengurus rumah tangga dan mengasuh anak bukan melulu tanggung jawab istri. Sebenarnya istri tak perlu meminta Anda untuk membantunya, tapi sudah harus menjadi kesadaran suami untuk membantu dan berbagi tanggung jawab.

9. WAKTU LUANG
Sekali dalam sepekan, misalnya, biarkan istri "terbebas" dari rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Biarkan ia bertemu atau berkumpul dengan teman atau kerabatnya. Istri tak hanya pantas mendapat "istirahat" dari jadwal pekerjaannya sehari-hari, dia juga membutuhkan jiwa dan raga yang sehat.

10. MELINDUNGI DIRI SENDIRI
Banyak pria tak peduli terhadap dirinya sendiri ketika harus berhadapan dengan masalah kesehatannya sendiri. Jelas, ini suatu tindakan yang tidak fair buat istri. Istri adalah kekasih Anda, bukan ibu Anda. Jadi, bertanggung jawablah untuk kesehatan Anda sendiri, yang berarti Anda bertanggung jawab untuk keluarga. (Tabloid Nova)





Read More......

10 KESALAHAN BESAR DALAM PERKAWINAN

Tak ada gading yang tak retak. Begitu kata pepatah untuk menggambarkan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia yang kerap melakukan kesalahan. Meski begitu, kesalahan tetap bisa dihindari atau diperbaiki. Termasuk kesalahan-kesalahan yang kerap kita lakukan dalam perkawinan. Nah, berikut ini sejumlah kesalahan yang paling sering dilakukan pasangan dalam sebuah perkawinan yang tak jarang memberi dampak amat buruk yaitu perceraian. Karena itu, simak baik-baik dan sedapat mungkin hindarilah.

1.Kurang Menghormati
Jangan menjelek-jelekan pasangan kepada teman-teman atau rekan kerja. Ingat, Anda dan suami/istri saling membutuhkan dan masing-masing juga harus tahu bahwa dirinya dihormati pasangan.




2. Tak Mengindahkan atau Mendengarkan
Jangan memberikan perhatian lebih kepada komputer, teve, dan lainnya sementara pasangan sedang berada di sisi kita. Perhatikan pula bahasa tubuh pasangan karena dari situ kita juga bisa tahu, apa yang sebetulnya ia inginkan.

3. Kurang Gairah
Padamnya gairah, tak ada lagi kemesraan apalagi keintiman, merupakan tanda-tanda bahaya dari sebuah perkawinan. Jangan tunggu lebih lama lagi. Segeralah cari nasihat dari penasihat perkawinan atau dokter yang bisa membantu jika memang harus dilakukan pengobatan tertentu. Jangan biarkan pasangan Anda bertanya, mengapa Anda tidak tertarik (lagi) pada seks.

4. Selalu Harus Benar & Menang
Sikap selalu menggurui bahkan memerintah pasangan atau harus selalu menang di dalam setiap percakapan, juga merupakan bahaya besar yang mengancam kehidupan perkawinan. Jarang sekali ada orang yang bisa bertahan menyintai pasangan yang selalu mau menang sendiri, inginnya dituruti, tak boleh dibantah. Sesekali terimalah, bahwa ada kesalahan yangt telah Anda buat dan jangan selalu menjawab setiap pertanyaan yang sederhana dengan kalimat panjang dengan nada tinggi pula.

5. Cerewet
Terlalu banyak bicara juga amat menjengkelkan pasangan kita, lo. Lebih baik bertindak daripada cuma banyak bicara. Jika Anda mengatakan akan megerjakannya, kerjakanlah! Dan bila Anda tidak mau mengerjakannya, tinggalkan!

6. Sindiran Menyakitkan
Jika pasangan berbicara dengan gaya dan kalimat yang menyakitkan, coba pikirkan baik-baik, kemudian tenangkan hati dan jangan membantah atau balik menyerang. Cobalah mengerti, pasangan sedang tidak memiliki rasa humor atau tengah senssitif. Jika keadaan sudah tenang, ajak ia bicara baik-baik. Tak perlu balas menyindir atau melontarkan kata-lata menyakitkan karena masalah tak akan pernah selesai dengan cara seperti itu.

7. Ketidakjujuran
Berbohong dan mempunyai rahasia di dalam perkawinan hanya akan menciptakan jarak alias jurang pemisah dia antara Anda berdua. Awalilah kehidupan perkawinan dengan kejujuran dan niat tulus untuk tidak akan berbohong dan bersikap tak jujur pada belahan jiwa.

8. Menyebalkan
Jelas, suatu perilaku buruk yang terus saja dilakukan, akan membuat pasangan kesal dan sebal. Ingat, lo, kesabaran manusia ada batasnya. Jika Anda selalu mengritik segala tindakan pasangan, kelewat mencampuri urusannya sampai terkesan mendikte, tak pernah "absen" memberi komentar, jangan salahkan pasangan jika satu saat ia berpaling ke lain hati. Coba, deh, tempatkan diri di posisi dia. Pasti Anda pun akan melakukan hal sama. Jadi, berhentilah bersikap menyebalkan.

9. Egois & Pelit
Giliran belanja untuk keperluan sendiri, Anda tidak peduli berapa besarnya harus mengeluarkan uang namun begitu untuk keperluan pasangan, Anda tiba-tiba berubah menjadi seorang juru hitung yang amat handal. Kalau mengajak makan di restoran, Anda selalu memilih yang termurah atau bermuka masam ketika sanak keluarganya datang berkunjung ke rumah. Nah, tanggalkan sikap-sikap yang menjengkelkan seperti itu. Ingat, Anda dan pasangan adalah belahan jiwa yang saling memerlukan dan harusnya saling mengisi.

10. Pemarah
Setiap pasangan harus dapat menghadapi konflik dengan cara yang positif. Jika Anda memiliki sifat pemarah, mungkin Anda dapat memenangkan perselisihan yang terjadi namun pada akhirnya malah bisa mengakibatkan kehilangan semuanya. Anda tak mau hal itu terjadi, kan?

12 CARA MEMPERBAIKI PERKAWINAN
1. Bersikap jujur.
2. Saling mendorong cita-cita untuk mendapatkan keberhasilan bersama.
3. Saling menghormati.
4. Luangkanlah waktu bersama untuk saling membagi cita-cita.
5. Luangkan waktu untuk berdialog, berdiskusi dalam percakapan sehari-hari sebagai cara untuk meningkatkan dan memperbaiki komunikasi.
6. Tertawalah bersama-sama sekurang-kurangnya sehari sekali.
7. Selisih paham boleh-boleh saja, tapi lakukan dengan cara yang fair.
8. Bersedia untuk saling memaafkan.
9. Ingat, saling berbaik hati adalah suatu hadiah yang amat besar nilainya.
10. Saling berbagi keinginan sehari-hari.
11. Buatlah keputusan bersama mengenai keuangan, disiplin anak-anak, pekerjaan rumah, liburan, dan lainnya. Jangan putuskan segala sesuatu sendirian. Ingat, dua kepala lebih baik dari saru kepala!
12. Luangkanlah waktu untuk berdua saja agar rasa keintiman terus terjalin dengan baik dan makin kuat. Rencakanlah liburan atau bepergian berdua yang romantis.




Read More......

Jumat, 19 Oktober 2007

Ibu Yang Bekerja

Berbagai alasan melatari keputusan seorang ibu untuk kembali bekerja setelah punya anak. Apa pun alasannya, para ibu bekerja tampaknya tak dapat menghindari perasaan bersalah meninggalkan anak di rumah bersama orang lain.

Kembali bekerja atau tidak setelah melahirkan merupakan dilema yang umum dihadapi para ibu bekerja. Namun, di zaman sekarang, sebagian besar para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, meski mereka menyadari bahwa kembali bekerja berarti harus mempekerjakan tenaga pengasuh untuk merawat anak selama ibu bekerja.

Tak dipungkiri, ada pula ibu yang menunda kembali bekerja, sejauh hal itu mungkin, karena tak ingin meninggalkan anak untuk diasuh orang lain. Tetapi, ada berbagai alasan mengapa para ibu cenderung memilih kembali bekerja setelah melahirkan.


Dra. Agustine Sukarlan Basri, M.Si ., staf pengajar pada Jurusan Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa, kecenderungan para ibu zaman sekarang memilih kembali bekerja setelah punya anak, bukan semata-mata karena mereka senang bekerja. “Jarang sekali seorang ibu bekerja untuk dirinya sendiri. Para ibu bekerja lebih untuk ikut berperan mendukung ekonomi rumah tangga,” ujar Agustine. Kalaupun ada ibu yang memutuskan kembali bekerja demi karier, ia tak malu mengakui bahwa ia merasa bersalah meninggalkan anak untuk diasuh orang lain.

Selain itu, tingginya angka perceraian pada usia perkawinan muda, dapat menjadi salah satu pemicu para ibu untuk kembali bekerja. Mereka menyadari bahwa kemandirian secara ekonomi diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan, seperti misalnya perceraian.

Teresa Wilson , penulis buku Working Parents Companion, menemukan beberapa alasan mengapa para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan:

- Merasa terisolir

Masalah berat yang dihadapi oleh ibu yang baru melahirkan anak pertama adalah merasa terisolir. Ibu bekerja umumnya merasa sudah akrab dengan lingkungan pekerjaannya, sehingga ketika tinggal beberapa bulan di rumah dalam rangka cuti melahirkan, ia merasa tidak mengenal secara baik orang-orang di sekitar rumahnya.

Selain itu, ibu yang sudah terbiasa bekerja di kantor butuh penyesuaian untuk menghadapi kehidupan yang lain sama sekali dengan kehidupannya di tempat kerja. Jenis pekerjaan yang dilakukan pun sama sekali berbeda. Para ibu ini di kantor sudah terbiasa mengambil keputusan secara spontan. Kehadiran bayi, tentu mengacaukan spontanitas mereka untuk beberapa waktu lamanya, dan kondisi ini tak mungkin ditolak.

Tidaklah mengherankan bila para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan untuk mendapatkan kembali kehangatan dan kehidupan dunia kerja yang sudah sangat diakrabinya.

- Mendapat jaminan di hari tua

Zaman sekarang tidak sedikit perempuan yang ingin bertanggung jawab atas nasibnya sendiri. Tingginya angka perceraian, memunculkan adanya kebutuhan untuk melindungi diri sendiri, khususnya dari bencana keuangan.

Kesadaran ini tumbuh justru karena kehadiran anak, ketika para ibu ini harus juga melindungi anak dari kekurangan yang dapat mereka alami karena tidak berpenghasilan. Bila mereka tidak bekerja, kehilangan suami karena berpisah atau mati muda, berarti juga kehilangan sumber keuangan.

Kalaupun mereka terhindar dari masalah perceraian, para ibu juga menginginkan adanya jaminan hidup di hari tua, seperti uang pensiun yang dapat mereka andalkan untuk menafkahi mereka. Sebab mereka juga sadar bahwa perempuan hidup lebih lama dibanding para laki-laki.

Dengan kata lain, perempuan yang memilih tetap bekerja setelah melahirkan, memiliki keinginan untuk melindungi anak dan diri sendiri dari kemungkinan buruk yang mungkin mereka alami.

- Kebutuhan ekonomi

Sebagian besar ibu yang kembali bekerja, bukan karena mereka ingin bekerja. Bagaimanapun, perasaan bersalah meninggalkan anak diasuh orang lain tetaplah ada. Namun, mereka juga tidak dapat menutup mata dengan kenyataan bahwa biaya hidup zaman sekarang sangatlah tinggi. Ini kenyataan yang kerap dihadapi oleh para ibu sebagai pengelola keuangan keluarga. Tidak ingin harus selalu ‘bermain akrobat’ dengan uang yang ada, para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan anak mereka.

- Pengalaman masa kecil

Anak perempuan yang ibunya bekerja, cenderung bersikap sama ketika dewasa. Anak-anak yang tetap merasa gembira dan bahagia meskipun para ibu mereka bekerja, cenderung berpikir bahwa anak-anak mereka pun, meskipun ditinggal bekerja, akan tetap gembira.

Peran model, dalam hal ini ayah dan ibu yang tetap berhasil mendidik anak mereka meskipun keduanya bekerja, dapat melatarbelakangi pengambilan keputusan bagi para ibu untuk tetap bekerja setelah melahirkan.

Bekerja dan gaya hidup

Apa pun alasan yang melatari keputusan para ibu untuk kembali bekerja setelah melahirkan, beberapa diantara mereka mengatakan bahwa mereka menyimpan perasaan bersalah meninggalkan anak untuk diasuh orang lain.

Tidak mengherankan bila diantara mereka berusaha mengurangi perasaan bersalahnya dengan membuat berbagai kompensasi. Misalnya, membuatkan sendiri makanan anak, menjahit sendiri baju ulang tahun anak untuk dipakaikan saat ulang tahunnya yang pertama, atau merawat anak begitu para ibu tiba di rumah. Tentu saja ini tidak salah.

Umumnya, perempuan yang bekerja, belajar membiasakan bekerja sebagai bagian dari gaya hidup. Namun begitu, mereka tidak ingin mengorbankan hidupnya bagi pekerjaan karena, anak-anak dengan berbagai kebutuhannya memang menjadi prioritas utamanya.

Bila demikian halnya, sebenarnya pilihan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan paralel dengan pengasuhan anak adalah: bekerja paruh waktu, freelance , bekerja di rumah, atau tetap bekerja purna waktu. Sebenarnya, waktu yang paling ideal untuk memutuskan jenis pekerjaan yang akan dipilih setelah melahirkan adalah saat para ibu ini belum punya anak. Masalahnya memang sangat sulit untuk merencanakan hidup jauh-jauh hari.

Ibu bekerja dan pengasuhan

Libur beberapa bulan setelah melahirkan atau mengadopsi anak, merupakan periode yang sangat penting bagi para ibu untuk menyesuaikan diri dengan peran baru mereka, dan mulai membangun kedekatan dengan anak.

Oleh karena kembali bekerja menjadi tema yang juga penting bagi kehidupan para ibu bekerja, mereka perlu segera membuat persiapan. Persiapan itu terutama berkaitan dengan perlengkapan yang dibutuhkan oleh pengasuh anak yang sudah dipercaya untuk merawat dan mengasuh anak selama ibu bekerja. Dengan cara ini, para ibu bekerja dapat menggunakan waktu yang ada untuk dinikmati bersama anak, tanpa merasa khawatir akan pekerjaan kantor.

Apakah pekerjaan yang dilakukan akan menguras tenaga? Ini merupakan pertanyaan penting ketika ibu bekerja memutuskan kembali bekerja, karena bekerja sudah menjadi bagian penting dalam hidup. Merawat dan mengasuh anak butuh tenaga yang cukup besar. Jika ibu bekerja sudah menghabiskan tenaganya untuk bekerja, sisa tenaga yang ada digunakan untuk mengasuh anak. Perlu dicatat, semakin tinggi tingkat stres pekerjaan itu, semakin tinggi pula tingkat stres ibu di dalam rumah.

Namun, ibu bekerja yang sungguh-sungguh menginginkan yang terbaik bagi anaknya, akan terus memelihara dirinya agar tidak mengalami stres. Mereka cenderung bersikap realistis, mencoba untuk menjadi orang yang bersikap fleksibel dalam menghadapi pekerjaan di luar rumah.

Immanuella F. Rachmani

Foto: Dok. Ayahbunda .

Read More......