Kata-Kata Bijak

Kita tidak tahu apakah Allah akan memberi rezeki yang banyak atau sedikit kepada kita

Kita juga tidak tahu kapan kita akan sukses

Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha untuk mendapatkannya

Jumat, 26 Oktober 2007

ASI PERAS, SOLUSI BUAT IBU BEKERJA

http://www.tabloid-nakita.com/

Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil.
Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari
dan kualitasnya pun tak berubah.

Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu
yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa
mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si
kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI
tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan.



Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu
sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh
untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. "Kalau saja semua bayi
mendapatkan exclusive breast feeding minimal 4 bulan, saya yakin tak
akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI
akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka
tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana
yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik," tutur
dr. Utami Roesli, SpA, MBA.

Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya
bekerja. "Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di
mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui
langsung, bukan ASI peras," lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan
Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila
situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah
si kecil boleh diberi ASI peras/perah. "Ibaratnya, tak ada rotan, akar
pun jadi."

POMPA PISTON

Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa
"aturan" yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4
bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot
dulu karena si kecil akan "bingung puting." Maksudnya, ia akan susah
untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah
berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih
ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu.
Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa
harus menggunakan akar?

Adapun cara "menabung" ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan
menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif
mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya
dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja
alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu
setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.

Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk
suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua
pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah
dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit
dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai
bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain
itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.

MEMERAH DENGAN JARI

Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu
memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak
perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal
sedikit anatomi payudara.

Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang
prinsipil, yaitu "pabrik" (di daerah berwarna putih), saluran, dan
"gudang" (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya sepe rti
bejana berhubungan. "ASI diproduksi di 'pabrik'nya yang berbentuk
seperti kumpulan buah anggur. Setiap 'pabrik' ASI dilalui otot-otot.
Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju
'gudang'. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di
'gudang' harus habis lebih dulu. Bila 'gudang' kosong, barulah 'pabrik'
akan mengisinya kembali, begitu seterusnya," papar Utami.

Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di
"gudang". Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara,
tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan
jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu
jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola,
jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai
aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh
saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada si si payudara lain, dan jika
diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada
payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan
cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang
diperas.

CARA MENYIMPAN

Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan
pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya
tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. "Bila tak
keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah
susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan
ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah 'pabrik' ASI bukan
'gudang'nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari 'pabrik'
tapi harus melalui 'gudang' dulu." Jadi, bila tekniknya sudah benar,
lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang
dibutuhkan pun tak sampai setengah ja m, tapi susu yang terkumpul bisa
mencapi 500 cc, lo.

Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan
lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam,
tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi
es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah
dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan
dalam freezer, bisa tahan 3 bulan.

Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk
memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. "Sudah dibuktikan, lo,
ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami
perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya
saja yang berubah." Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer,
"ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu
protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang
mati akibat kedinginan."

SUAPI PAKAI SENDOK

Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita
harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo,
karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa
buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap
water, tapi
di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup
dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air
yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama
penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI
seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan
langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi.

Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan
disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol,
lama-lama ia jadi "bingung puting". Jadi, ia hanya meny usu di ujung
puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar
adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil
sudah "bingung puting", tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di
"gudang"nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah
payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari
payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara
kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya,
susu langsung keluar.

Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah
yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan
jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat
beradaptasi, kok. "Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah
terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500
cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya
datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan
ASI. Itu sudah dibuktikan, lo," tutur Utami.

Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski
bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif!

Jangan Cepat-Cepat Mengganti Asi Dengan Susu Formula

Banyak ibu mengira ASI-nya sedikit hingga si kecil pun diberikan susu
formula. Padahal, tegas Utami, tak ada ibu yang kekurangan ASI. "Jika
bayi kekurangan ASI, bukan lantaran ibunya yang tak bisa memproduksi
susu sebanyak yang diperlukan bayi, melainkan bayinya yang tak bisa
mengambil dari si ibu sebanyak yang diperlukan," terangnya. Jadi,
jangan dibalik, ya, Bu!

Nah, mengapa si kecil tak bisa mengambil ASI sebanyak yang ia perlukan,
tak lain lantaran cara menyusunya yang salah. Jadi, kalau si kecil
harusnya memperoleh ASI sebanyak 100 cc, misal, tapi karena cara
menyusunya salah hingga yang didapat cuma 50 cc, akibatnya yang dipasok
"pabrik" pun cuma 50 cc. Itu sebab, harus diperhatikan betul cara
menyusu pada si kecil. Yang benar, seperti sudah diutarakan di atas,
yaitu seluruh areola ibu masuk ke mulut si kecil.

Faktor lain yang membuat si kecil kekurangan ASI lantaran ibu
mengintervensi bayinya dengan macam-macam. Antara lain, begitu lahir si
kecil langsung diberi susu formula yang sebetulnya enggak perlu. Belum
lagi ketika memberi ASI perah pakai botol susu dan dot, bukan disuapi
pakai sendok.

Persiapan Memerah

* Waktu yang paling tepat untuk memerah ASI ketika payudara sedang
penuh, bisa diulang kembali sekitar 3-4 jam.

* Alat-alat yang akan digunakan untuk memerah harus
dibersihkan/disetrilisasi lebih dulu. Sebaiknya selesai memerah,
alat-alat tersebut langsung dibersihkan hingga tetap terjaga kebersihannya.

* Ketika memerah, sebaiknya ibu dalam keadaan tenang dan nyaman. Pilih
ruangan yang memungkinkan ibu tak terganggu apa pun. Lebih baik lagi
bila si kecil ada yang menjaga hingga konsentrasi ibu tak terganggu.

* Cuci tangan dengan sabun dan air tiap kali hendak mulai memerah,
sedangkan payudara cukup dicuci dengan air. Jangan gunakan sabun atau
apa pun pada puting.

* Minumlah satu gelas air/sari buah/susu/secangkir sup atau kacang ijo
sebelum memerah ASI.

SEMINAR KLASI
"Breastfeeding and Working Mom"
dr. Utami Roesli, Spa., MBA., CIMI., IBCLC
28 Agustus 2004, Ramzy Gallery





Tidak ada komentar: